Notification

×

Iklan


Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Pemprov Banten Siagakan Layanan Kesehatan Antisipasi Abu Vulkanik Anak Krakatau

Selasa, 08 September 2026 | 08.11.00 WIB Last Updated 2026-09-08T01:11:37Z



BANTEN/JB.COM, – Pemerintah Provinsi (Pemprov) Banten menyiagakan seluruh fasilitas kesehatan (faskes) dan tenaga kesehatan (nakes) untuk mengantisipasi dampak kesehatan akibat paparan abu vulkanik erupsi Gunung Anak Krakatau.


Kesiapsiagaan tersebut tertuang dalam Surat Edaran (SE) Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi Banten Nomor 400.7/3234/DINKES/2026. Surat edaran itu menginstruksikan rumah sakit, puskesmas, laboratorium kesehatan masyarakat (labkesmas), balai kekarantinaan, hingga pos kesehatan mengaktifkan layanan siaga 24 jam sesuai tingkat risiko dan rencana kontingensi daerah.



Kepala Dinkes Banten Ati Pramudji Hastuti mengatakan pihaknya bergerak cepat merespons keluhan masyarakat, terutama terkait infeksi saluran pernapasan akut (ISPA).


“Saat ini kasusnya memang masih dalam batas normal. Namun demikian, kami bersama seluruh tenaga kesehatan tetap bersiaga sesuai arahan dari Bapak Gubernur Banten agar ke depan tidak terjadi lonjakan kasus,” ujar Ati, Minggu (6/9/2026).

Ati mengimbau masyarakat mengurangi aktivitas di luar ruangan. Warga yang terpaksa keluar rumah diminta menggunakan masker.


Dia memastikan stok masker di Dinkes Banten masih aman untuk didistribusikan kepada masyarakat terdampak. Selain itu, Pusat Krisis (Crisis Center) Kementerian Kesehatan akan menyalurkan bantuan masker ke sejumlah daerah terdampak, yakni Banten, Lampung, DKI Jakarta, dan Jawa Barat.

Menurut Ati, abu vulkanik mengandung partikel kasar hingga sangat halus serta gas yang bersifat iritan. Paparan abu dapat menyebabkan iritasi hidung dan tenggorokan, batuk, sesak napas, hingga memperburuk kondisi penderita asma dan penyakit paru obstruktif kronik (PPOK).

“Dampak lainnya meliputi gangguan mata, iritasi kulit, hingga kontaminasi sumber air dan pangan yang tidak tertutup rapat. Selain itu, ada risiko kecelakaan lalu lintas akibat berkurangnya jarak pandang dan jalanan yang licin,” jelasnya.


Untuk mengantisipasi dampak tersebut, Dinkes Banten meminta seluruh faskes memastikan ketersediaan logistik dan obat-obatan esensial. Persiapan meliputi sistem rujukan, ambulans, tabung oksigen, pulse oximeter, obat bronkodilator, inhaler dan spacer, cairan pembilas mata steril, serta alat pelindung diri (APD) dan respirator partikulat seperti N95, KN95, dan KF94 bagi petugas.


Tenaga kesehatan di lapangan juga ditugaskan melakukan pemantauan harian terhadap potensi peningkatan kasus gangguan pernapasan. Pemantauan diprioritaskan terhadap kelompok rentan, seperti bayi, anak-anak, lansia, ibu hamil, penyandang disabilitas, serta penderita penyakit kronis.


Data pemantauan selanjutnya dianalisis dan dikoordinasikan dengan BMKG, BPBD, dan Dinas Lingkungan Hidup terkait kualitas udara, termasuk PM2,5 dan PM10. Hasil pemantauan dilaporkan melalui Sistem Kewaspadaan Dini dan Respons (SKDR).


Ati juga meminta masyarakat melakukan langkah pencegahan di rumah dengan menutup rapat pintu, jendela, serta celah yang dapat menjadi jalan masuk abu. Tempat penampungan air dan makanan juga diminta ditutup.


“Bila membersihkan abu, basahi secukupnya terlebih dahulu agar tidak beterbangan. Hindari menyapu kering. Selain itu, pastikan ketersediaan obat rutin bagi anggota keluarga dengan penyakit kronis tersedia cukup di rumah,” tutup Ati. (red jb)

×
Berita Terbaru Update